Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa sikap tegas, pendirian kuat, kewibawaan sangat dibutuhkan dalam mengajar. Namun perlu digaris bawahi bahwa Gurutta Abba tidak pernah memaksa muridnya untuk takut dan segang kepadanya. Hal ini mungkin berbeda dengan sebagian guru yang memaksa muridnya untuk takut sehingga yang tertanam dalam diri muridnya adalah takut bukan taqwa. Takut murid demikian hanya ada jika gurunya dilihat, namun jika gurunya tidak ada maka hilang pulalah rasa takut itu. Kharismatik Gurutta Abba tidak demikian, bahkan penulis bisa merasakan sendiri bahwa kharisma Gurutta, rasa segang kepada gurutta masih ada meski beliau sudah tiada di dunia ini secara fisik.
Ketiga, Diantara hal lain dari Gurutta Abba adalah pandangan gurutta abba terhadap visi masa depan pesantren As’adiyah. Sehingga gurutta abbalah yang mencetus kampus III Madrasah Aliyah As’adiyah di Macanang. Kampus tersebut terbilang sangat jauh dari daerah Sengkang. Namun santri-santri Madrasah Aliyah Macanang merasakan hal yang luar biasa ketika menempuh pelajaran di sana, belajar dengan tenang dengan situasi yang begitu indah. Selain kampus III, Gurutta Abba juga mencetus kampus IV Ma’had Aly As’adiyah di Desa Ujung Baru Kec. Tanasitolo Kab. Wajo. Yang situasinya sama dengan kampus III namun tempatnya terbilang dekat dari daerah Sengkang.
Melihat visi ke depan gurutta tersebut, kita sebagai santrinya mesti juga melihat visi dan gambaran As’adiyah ke arah masa depan. Diantaranya selain meningkatkan bangunan struktural As’adiyah, perlu juga ditingkatkan kultural As’adiyah dari segi menjaga tradisi As’adiyah dan meningkatkan budaya literasi serta pengembangan metode ijtihad. Ujung Baru, 4 November 2019 Oleh: KM. Tarmidzi Tahir., S.H.I., M.H.I

0 Komentar